Div. Caving & Rafting

Posted: Agustus 18, 2007 by vachmee in Div. Caving & Rafting

Div. Caving adalah devisi dalam organisasi pecinta alam grama surya yang melaksanakan kegiatannya di goa.

Penelusuran Lorong Gelap nan Indah (Caving)1

Disusun oleh : Fuad Galuh P., DG


Umum

Speleologi adalah ilmu yang mempelajari gua termasuk proses pembuatannya (speleogenesis), struktur, fisik, sejarah dan aspek biologis. Speleologi sering dikaitkan dengan aktivitas penjelajahan gua yang dikenal dengan istilah caving. Caving merupakan salah satu olah raga rekreasi menjelajahi gua.

Gua merupakan salah satu wisata petualangan yang menghadirkan keindahan dunia bawah tanah yang tidak akan pernah anda temui di permukaan. Ornamen-ornamen gua seperti yang terbentuk oleh proses tetesan air selama ratusan bahkan ribuan tahun dan telah mengalami proses kristalisasi menampilkan sebuah panorama eksotis dan mempesona yang tidak akan pernah terlupakan.


Proses Terbentuknya Gua

Salah satu aspek yang harus diketahui penggemar caving adalah pengetahuan dasar geologi. Terutama bagaimana awal gua itu terbentuk, di daerah mana bisa ditemukan, sifat batuannya, jenis gua, dan sebagainya. Dengan dasar pengetahuan ini, caver (penelusur gua) bisa dengan mudah menemukan gua. Sebab, mereka hanya akan mendatangi wilayah yang banyak terdapat batu gamping.

Dua unsur penting yang memegang peran terjadinya gua, yaitu rekahan dan cairan. Rekahan atau lebih tepat disebut sebagai “zona lemah”, merupakan sasaran bagi suatu cairan yang mempunyai potensi bergerak keluar. Cairan ini dapat berupa larutan magma atau air. Larutan magma menerobos ke luar karena kegiatan magmatis dan mengikis sebagian daerah yang dilaluinya. Apabila kegiatan ini berhenti, maka bekas jejaknya (penyusutan magma cair) akan meninggalkan bentuk gua, lorong, celah atau bentuk lain semacamnya. Ini sering disebut gua lava, biasanya di daerah gunung berapi.



Daerah karst umumnya dicirikan dengan adanya closed depression, drainase permukaan dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batugamping yang lazim dan relatip mendekati. Tetapi pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat lain misalnya dolomit, dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batupasir dan kwarsa, dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). Semua tersebut diatas adalah benar-benar karst. Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses yang lain – cuaca, kegiatan hidrolik, pergerakan tektonik, air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk lahan yang cocok adalah pseudokarst / karst palsu (David Gillieson, 1996).

Batuan sedimen batugamping disusun dari sisa-sisa tumbuhan dan binatang yang menghasilkan kalsium karbonat sebagai bagian dari metabolismenya membentuk bagian utama dari batugamping. Komponen lainnya adalah dari pengendapan secara kimiawi atau oleh proses biokimia. Secara bersama-sama tersedimentasi pada dasar laut; dan hal ini tidak memilki karakter yang seragam diseluruh bagiannya, jadi batugamping bukan merupakan komposisi yang seragam.

Hal ini melibatkan perubahan kimia yang komplek seperti halnya adalah sementasi dan rekristalisasi, silikafikasi dan dolomitasi: secara bersama-sama biasa disebut dengan istilah diagenesis. Gua-gua hanya dapat dibentuk dari batuan yang ter-litifikasi, dan jelas bahwa karakter sedimen semula dan sejarah diagenetik adalah faktor-faktor yang mengontrol lokasi sebuah gua. Proses kelahiran sebuah gua biasa disebut dengan speleogenesis, dan fitur dari geologi sangat besar pengaruhnya.


Ornamen

Speleothems adalah ornamen bentukan gua seperti :

  1. Aragonite : Crystalline / cristal yang terbentuk dari CaCO3, jarang dijumpai.

  2. Flow Stone : Kalsit (Calsite) yang terdeposisi (diendapkan) pada dinding orong gua.

  3. Gours : Kumpulan kalsit yang terbentuk di dalam aliran air atau kemiringan tanah. Aliran ini mengandung banyak CO2. Semakin CO2 memuai (menguap), kalsit yang terbentuk semakin banyak.

  4. Helectite : Formasi gua yang timbul dengan sudut yang berlawanan dari gaya tarik bumi. Biasanya melingkar.

  5. Marble : Batu gamping yang mengalami perubahan bentuk dimetamorfasekan oleh panas dan tekanan sehingga merubah struktur yang unik dari batu tersebut.

  6. Stalactite : Formasi kalsit yang menggantung

  7. Stalacmite : Formasi kalsit yang tumbuh ke atas, di bawah atap stalactite.

  8. Straw : seperti stalactite tapi diameternya kecil, sebesar tetasan air.

  9. Styalalite : Garis gelombang yang terdapat pada potongan batu gamping.

  10. Pearls : Kumpulan batu kalsit yang berkembang di dalam kolam di bawah tetesan air. Disebut pearls karena bentuknya mirip mutiara.

  11. Curtain : Endapan yang berbentuk seperti lembaran yang terlipat, menggantung di langit-langit gua atau di dinding gua.

  12. Column

  13. Couli Flower

  14. Rimstone Pool : Berbentuk seperti bendungan yang berbentuk ketika terjadi pengendapan air, CO2-nya menghilang dan menyisakan kalsit yang bersusun-susun.


gb. Salah satu ornament di gua Cerme

Flora dan Fauna

Gua sebagai habitat flora dan fauna untuk mempertahankan jenis dan ekosistemnya. Fauna gua terbilang unik. Semuanya beradaptasi dengan lingkungan gelap abadi tak hanya terbilang puluhan atau ratusan, tapi ribuan tahun. Mereka berevolusi disesuaikan dengan alamnya yang gelap gulita. Untuk bertahan hidup satwa mengembangkan indera peraba dan perasanya sedemikian rupa untuk menggantikan fungsi matanya. Lama-kelamaan alat penglihatan itu tertutup selaput karena mubazir.

Fauna gua dibedakan antara fauna yang mengambil energi di luar gua
(kelelawar, walet) dan fauna yang home rangenya berada di dalam
gua saja (ikan, jangkerik, dll). Kelelawar, burung sriti dan walet merupakan fauna gua tetapi aktifitasnya berada jauh di luar gua dalam hal mencari makan dan dimakan fauna lainnya.

Bermacam jenis flora baik yang berhijau daun hidup di mulut gua maupun yang tidak berhijau daun yang hidup di dalam gua. Flora dalam gua beradaptasi dengan lingkungan gelap total. Tumbuhan untuk hidup di permukaan memerlukan sinar matahari. Tumbuhan berdaun belum pernah dilaporkan ditemukan di dalam gua. Yang lazim dijumpai adalah aneka jamur yang bentuknya aneh-aneh. Misalnya ada jamur yang memiliki leher yang panjang, dengan topi kecil namun lunglai.


Sejarah Penelusuran

Sejarah penelusuran gua dimulai di Eropa sejak 200 tahun lalu. Eksplorasi pertama tercatat dalam sejarah adalah tanggal 15 Juli 1780, ketika Louis Marsalliers menuruni gua vertikal Fairies di Languedoc, Perancis. Kemudian pada tanggal 27 Juni 1888, seorang ahli hukum dari Paris bernama Eduard Alfred Martel mengikuti jejak Marssalliers. Usaha Martel ini dianggap sebagai revolusi di bidang penelusuran gua, sehingga ia disebut sebagai “Bapak Speleologi Modern”. Dia menciptakan metode penuh disiplin dan tertib, mengubah tata cara penelusuran gua sebelumnya dengan menstandarkan perlengkapan dan bekal yang harus dibawa.


Kode Etik

Penelusuran gua merupakan kegiatan kelompok, karenanya dalam setiap penelusuran tidak dibenarkan seorang diri. Jumlah minimal untuk sebuah eksplorasi gua adalah 4 orang. Hal ini didasarkan atas pertimbangan, jika terjadi kecelakaan pada salah seorang anggota kelompok, satu orang dibutuhkan untuk menjaganya, sedangkan dua lainnya mempersiapkan pertolongan (rescue), atau kalau tidak mungkin, cari pertolongan kepada penduduk.

Untuk lebih mudahnya sebagai caver hendaknya mempunyai respek terhadap lingkungan dan cuaca, masyarakat sekitar, kemampuan sesama caver, penelitian, dan instansi jika diperlukan. Satu hal yang harus diresapi dan disadari oleh setiap penelusur gua yaitu masalah “konservasi”. Prinsip yang biasa dipakai dalam etika penelusuran gua adalah take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing but time’.

Agar penelusuran lebih aman maka caver mempersiapkan perlengkapan dasar, pengetahuan dan ketrampilan baik tentang gua, alat dan penggunaanya, serta teknik atau cara penelusuran yang akan lebih terasah dengan berlatih. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di dalam gua. Dalam setiap musibah, setiap caver wajib bertindak dengan tenang, tanpa panik, dan wajib patuh pada instruksi leader penelusuran.

Dalam penelusuran horisontal, kita melakukan gerakan jalan membungkuk, merangkak, merayap, tengkurap, dan kadang terlentang, menyelam serta berenang. Dengkul dan ujung siku merupakan sisi penting buat seorang penelusur atau caver. Bentuk tubuh juga mempengaruhi kecepatan gerak seorang penelusur gua.

Beberapa hal lain yang seharusnya dilakukan adalah pelaporan ataupun publikasi. Pelaporan apabila berkaitan dengan suatu tugas/kegiatan. Publikasi dilakukan apabila ditemukannya hal baru yang belum diketahui baik yang berharga maupun yang berbahaya.


Perlengkapan

Gua terbagi dalam 2 jenis yaitu gua vertical dan gua horizontal.Untuk penelusuran gua horizontal tidak terlalu membutuhkan perlengkapan yang banyak. Sedangkan untuk penelusuran gua vertical dibutuhkan lebih banyak lagi alat.

Pada dasarnya peralatan caving dibagi menjadi dua :

A. Peralatan pribadi (PERSONAL EQUIPMENT) – untuk gua horizontal

1. Coverall / pakaian yang menutupi seluruh tubuh

2. Helm Speleo

3. Sepatu karet atau sepatu boot

4. Senter / headlamp atau Boom (Generator Carbide)

5. Caving pack sack

sebagai tambahan dapat membawa sarung tangan, pelampung, SRT set.

B. Peralatan tim (TEAM EQUIPMENT)untuk gua horisontal

1. Perahu karet

2. Tali

3. Kamera

4. Kompas

5. Topofil

6. Peralatan mountenering

sedangkan secara umum yang seharusnya diperhatikan untuk dibawa adalah:

- Pakaian ganti/baju hangat/sweater / jaket / kaos kaki

- Raincoat / jas hujan/ paying

- Topi

- Sepatu trekking/keds/sandal gunung

- Battery cadangan

- Kantong kedap air (water proof pocket)/plastik bagi yang membawa kamera

- Obat pribadi

Hal lain yang harus diperhatikan, yaitu membawa makanan dan minuman. Pada saat caving, disarankan tidak menggunakan celana jeans.

 

Pemetaan

Dalam kegiatan penelusuran gua, pemetaan merupakan suatu hal yang penting, bahkan pemetaan dapat disebut sebagai aspek ilmiah dari suatu kegiatan yang bersifat petualangan. Meskipun sebenarnya banyak penelitian ilmiah yang dapat dilakukan di dalam gua, seperti penelitian Biologi, Geologi, Geomorfologi, Arkeologi, Hidrologi, Geografi, dan lain sebagainya.


Pemetaan merupakan bagian dari kegiatan yang bersifat perekaman atau pendokumentasian. Dalam hal ini adalah yang berhubungan dengan rekaman bentukan fisik gua, misalnya bentuk atau denah lorong, panjangnya, tingginya, keletakan ornamen, apa saja ornamennya, posisi aliran air, lumpur, sump, dan lain sebagainya.

Dari pemetaan gua, seseorang akan lebih mengetahui informasi denah guanya, ukurannya, ornamen yang menghiasinya, dan lain sebagainya, jauh dari sebelum ia sendiri memasuki gua tersebut. Pemetaan juga memberikan informasi ilmiah yang berguna bagi penelitian ilmu pengetahuan. Peta gua juga berarti sebagai bukti seorang caver telah memasuki atau mengeksplorasi suatu gua.

sebuah peta lebih mempunyai banyak arti daripada seribu kata


Kecelakaan

Sebagian besar kecelakaan yang terjadi di dalam gua, berasal dari kesalahan si penelusur sendiri. Dalam keadaan yang sangat gelap sering kali seorang penelusur melakukan kesalahan dalam menaksir jarak, sehingga sebuah lubang yang cukup dalam, terlihat dangkal. Etikanya tidak diperkenankan melakukan lompatan apapun di dalam gua. Penggunaan perlengkapan yang tidak memenuhi standar juga dapat dikategorikan salah satu penyebab kecelakaan yang disebabkan kesalahan penelusur.

Tertimpa batu, merupakan kejadian yang sering terjadi, karena runtuhan alami akibat rapuhnya dinding gua atau akibat ketidaksengajaan si penelusur gua yang menyebabkan jatuhnya batuan dan menimpa penelusur lain. Bahaya banjir merupakan faktor penyebab utama kecelakaan lainnya. Demikian pula faktor suhu udara yang dingin, perlu diperhatikan terutama pada saat melakukan eksplorasi di gua yang basah.

Kejadian-kejadian di atas bukan tidak mungkin untuk dihindari, semuanya tergantung dari persiapan dan pengalaman yang dimiliki oleh penelusur gua.


Sekilas Gua Cerme

Di dalamnya, gua alami ini mempunyai banyak stalagnit dan stalagmit yang memukau. Dengan adanya aliran sungai kecil di sepanjang gua, caver harus rela berbasah-basahan. Sungai kecil tersebut mempunyai nilai historis tersendiri. Pada masa penjajahan, rupanya sungai kecil di dalam Gua Cerme pernah digunakan oleh Belanda untuk mengaktifkan pembangkit tenaga listrik.

Panjang total Gua Cerme mencapai sekitar 1300 meter, hingga menembus sampai Kabupaten Gunungkidul. Untuk menelusurinya, caver harus membiasakan diri untuk terendam air, karena tak ada bagian yang berupa tanah lembab sekalipun. Kedalaman air memang tak terlalu dalam, hanya sekitar 0,5-1 meter saja. Untuk menelusurinya, dibutuhkan waktu sekitar 90 menit.

Gua Cerme dahulunya adalah tempat pertemuan para Walisongo untuk mengajarkan dan menyebarkan ajaran Islam. Kata Cerme sendiri berasal dari kata Ceramah, yang biasa dilakukan oleh Walisongo.


selamat memasuki lorong gelap nan indah………………


1 à disarikan dari berbagai sumber……………..

HOME 

Komentar
  1. Caver Chubbye mengatakan:

    cara pembentukan ornamen pearl dwoooong sama Stayalalite????
    pengen tau….

  2. ekaristiyono mengatakan:

    Ngintip materi cavingnya ya..soalnya anak Palembang dak punya referensi praktis utk materi ini. Plan Libur sekolah mau coba vertical caving di Yogya. Salam dari Pencinta alam SMA Xaverius 1 Palembang (Palaxsa)

    Pak Eka
    Pendamping ekskul

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s